Kami Ingin Samosir Lepas Dari Belengguh Ongkos Politik


Catatan Oleh Bastian Simbolon

Oh....Samosir ku

Tak lama lagi maka genaplah usia mu 19 thn.

banyak orang bercerita tentang sungguh luar biasanya keberadaan mu ; dengan indahnya alam mu, sejuknya udarah mu, penduduk mu yang melaksanakan adat istiadat yang sangat tak tertandingi.

Hampir tidak terbantahkan fakta bahwa masyarakat mu sedikitnya akan melaksanakan, mengikuti, menghadiri pesta paradaton (pesta adat) 2-3 kali seminggu, bahkan bisa lebih.

Atas Nama "Dalihan Natolu"

- Somba Marhula hula

- Manat mardongan Tubu

- Elek marboru


Tak tanggung tanggung tuk menguatkan itu, pemerintah kami telah membentuk ; Forum Komunikasi Tokoh Masyarakat (FKTM), Lembaga Adat Dan Budaya, Ulubalang dan yang lainnya.

Semua itu dengan biaya atas APBD kami yang sangat minim. Diharapkan, tujuannya agar terciptanya kerukunan, kekeluargaan, kesejukan, dan kekuatan tuk bergandeng tangan, bahu membahu, tuk membangun mu dengan dipimpin oleh pemerintah kami.


Namun faktanya disaat usia mu yang akan genap 19 tahun, semua yang sudah dibentuk itu, yg sudah menghabiskan biaya (APBD) yang tidak sedikit itu, kondisi masyarakat mu, kondisi tubuh mu (pembangunan) tidak menunjukan kemajuan yang berarti.

Kau masih sangat jauh tertinggal dari tetangga tetangga mu.


Yang lebih parahnya lagi masyarakat mu terus ribut, berseteruh. Seakan sama sekali kami bagai orang yang tidak lagi menghargai, menghormati Falsafa yang sudah di buat dan dilaksanakan, dipelihara para nenek moyang, orang tua kami "DALIHAN NA TOLU"


Yang jauh jauh lebih memprihatinkan dimana ditengah tengah masyarakat mu sudah terbangun Falsafa baru yakni "JELAS DO" masyarakat mu sudah tidak lagi perduli mau siapapun yang jadi Uluan, Pemimpin (Eksekutif/Bupati & W.Bupati, Legislatif/Dewan) di raga/wilayah mu ini, asal yang bisa memberikan Besar.

Togu togu ro yang di adat istiadat mu dulunya berarti positif, kini sudah diselewangkan menjadi semacam uang suap (uang pendahulu, yang sudah pasti akan mendapatkan tambahan yang lebih besar selanjutnya sebelum pemilihan.


Masyarakat mu kini terbelenggu dengan TTR. Jika seseorang yang tidak mampuh memberikan TTR yang besar nischaya pasti dia tidak akan dipilih, dan jangan bermimpi menjadi pemimpin (dapat kursi).

Semua masyarakat mu sudah membuat TTR sebagai keharusan, sudah hampir semua yang mengaminkan, hanya tersisa segelintir masyarakat mu yang sangat menyayangkan kondisi ini, hanya segelintir masyarakat mu yang masih mau memikirkan tuk bisa mengubah keadaan ini. Masyarakat mu yang sedikit itu tak jarang akan menjadi cemohan bila mereka menyampaikan ketidak setujuhannya dengan keadaan ini.


Namun disituasi ini, masyarakatmu tetap menginginkan, menuntut agar terus ada pembangunan, kemajuan, kesejahteraan yang nyata yang harus mereka lihat dan rasakan.


Togu togu ro (TTR) / Uang Muka / Suap telah menjadikan Samosir menjadi kabupaten dengan Ongkos Politik yang sangat tinggi (gila gilaan), Ongkos politik yang sangat tinggi menjadi beban yang sangat berat bagi pemimpin, pemerintah (Eksekutif, Legislatif) untuk bisa mewujudkan keinginan dan tuntutan masyarakat mu yang menginginkan pembangunan, kemajuan dan kesejahteraan yang nyata, signifikan.


Pemimpin Togu togu ro sudah pasti harus lebih dahulu memikirkan modal kembali ditambah dengan mengumpul modal tuk nyalon kembali.

Eksekutif akan memperbesar sucses fee, Legislatif akan berebut Pokir, Aspirasi.

Para pemain dibawahnya ; staf di dinas terkait, juga akan memainkan peran/gayanya bahwa mereka juga perlu dihargai, di service (mendapatkan penghasilan tambahan yg harus jauh diatas gaji). Apalagi para contraktor, sudah barang tentu tidak mau kerja rodi. Pasti mereka akan berusaha tuk mendapatkan yang jauh lebih besar dari pemerintah, karena mereka yang mengerjakan. 


Nah, mari kita semua mencoba tuk bersama membayangankan apa kiranya yang akan terjadi ?????

Kwalitas pekerjaan, ayo sama sama kita kelapangan tuk melihatnya....

Tapi dampak tidak langsung dari itu semua ada yang tumbuh subur di kabupaten kita tercinta ini, jika banyak masyarakat yang belum tahu, atau pura pura tidak tahu, maka biarlah kami yang memberitahukannya, dimana saat ini tumbuh subur tempat tempat hiburan, cafe yg berizin sampai yg tidak berizin, lanjutannya banyak perempuan pendatang baru (wanita penghibur) yang jumlahnya sudah tidak terkontrol oleh dinas atau kantor pemerintah terkait.


Para contraktor terus berteriak bahwa mereka merugi (tak dapat untung) karena mereka lupa bahwa keuntungan mereka sudah mereka buat tuk nyawer si Inem, Lia, Soraya, Leny, dan si Atun, bayar uang kost mereka dll.

Terus merugi, namun dalam faktanya sedangkan Pekerjaan Kecil melalui Penunjukan Langsung (PL) Rp. 200 juta ke bawah harus ribut (berebut) apa lagi proyek milliaran, perang pun jadi. "Lebih bagus Tendernya Gagal dari pada harus jatuh (dikerjakan) contraktor lain. Faktanya bisa melihat pada gagalnya DAK tuk pekerjaan pembangunan Rumah dokter dan Para Perawat Puskesmas Buhit dan pembangunan Ramah Tinggal Para Perawat di Puskesmas Sitio Tio TA. 2021 lalu.


Para pemimpin bilang "ampun" tak tahunya, jumpa masa pemilihan namanya terus nongol di kertas suara, ngotot lagi tuk tetap menang sampai berapa periode ???

Yang ianya lagi, para pemimpin TTR mencoba mencari kambing putih, eh...kambing hitam mempersalahkan Peraturan atau Undang Undang Pemilu/Pilkada sampai Undang Undang Bawaslu yang salah ???


Inilah belengguhnya....


Jangankan masyarakat biasa, mungkin para tim sukses (yang menjalankan TTR dilapangan), Tim Pemrakarsa, Staf Ahli Bupati, TBPP, Pakar, Prof, Doktor sekalipun pastilah akan sulit tuk mencari solusi atas masalah yang sudah sangat akud ini, apa lagi setelah terbangunnya falsafa baru ditengah masyarakat "JELAS DO"


Saya dalam kesempatan ini, melalui tulisan saya yang bersumber dari hati dan fikiran saya yang dalam, atas kecintaan ku pada mu, "Oh Samosir ku"

Izinkanlah aku menuliskannya...


Sesungguhnya kondisi yang sangat sulit dan konyol yang di hadapi kabupaten ini adalah semua berakar dari Ongkos Politik Yang Sangat Tinggi (Gila gilaan), inilah beban sesungguhnya. 

Didalam fikiran saya, bahwa saat ini (hari ini) ada 26 orang di Samosir ini yang bisa dan sanggup tuk memperbaiki keadaan ini. Yang bisa mengubah Samosir ke situasi yang lebih baik.

Mereka adalah 2 (dua) orang yakni Bupati dan Wakil Bupati bersama ke 24 orang Anggota DPRD Samosir periode saat ini.


Maka saya akan membuat usulan jika mereka mau dan bersedia tuk meninjau dan mengevaluasi (menekan) besaran Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Permen Nmr. 1 Tahun 2022. 

Dalam setiap pekerjaan (proyek) fisik yang menggunakan anggaran yang bersumber dari APBD Kabupaten Samosir juga yang bersumber dari Dana Desa, yang tertuang di dalam Perbup setiap tahun anggaran.


Jika ke 26 orang yang saya maksud memang benar benar sayang dan mencintai Kabupaten Samosir ini, bukan tidak mungkin mereka bisa lakukan itu tuk ketuk Palu di APBD 2024 mendatang.


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Sebelum tulisan ini kami muat di media, saya mencoba tuk meminta tanggapan kepada beberapa orang tokoh masyarakat asal Samosir yang saat ini berada di tanah perantauan (tano parserakan) diantaranya :



SHALOM, Horas ma bapak Naburju.

Salam Sehat. "GBU"

Amin.


Izin bapak, ada sedikit catatan saya hal tentang Samosir. Rencana akan saya naikkan di Media Cetak Bidik Indonesia Online bidikkasusnews.com

Tolong di baca bapak dan mohon ada tanggapannya, masukannya.


Terima kasih🙏🙏🙏


TANGGAPAN :


Bp. Ir. JMT. PANDIANGAN


Bagus bere dan isi tulisan mu ini adalah realita sekarang Dan HARUS ADA UPAYA MEMPERBAIKI agar jangan sampai kabupaten Samosir secara fisik dan masyarakatnya semakin Bar bar dan Dalihan Natolu hanya di ujung lidah.

Kalau sejutu nanti sy edit bere.



Bp. SANGKAP SIHOTANG


Sangat autokritik dan berbasis data yg empiris.

Menurut saya sangat bagus.

Cuman gimana cara menyajikan, membuat orang tertarik dulu membaca, baru menyikapi nya.

Artinya tulisan ini sangat panjang.

Apa bisa di buat cerita bersambung.

Soal TTR ini sdh hampir semua daerah melaksanakan, tapi khusus Samosir sangat keterlaluan.

Hanya pandapot sementara Lae, nanti saya coba baca ulang.

👍👍

.

Bp. EDISON SINAGA


[12/1 16.38] Ketum PTTSB Ir. Edison Sinaga Tulang: Horas ma Lae.

[12/1 16.39] Ketum PTTSB Ir. Edison Sinaga Tulang: Dang pola huantusi manambahi angka naung adong dibahen lae, ala pemahaman ku tentang Samosir dang boi dope hu pasahat, Sotung tarlandit annon.

Ketum PTTSB Ir. Edison Sinaga 

Tulang : Mauliate ma Lae. 

Artikel Terkait

Sumut|
View Comments

Komentar

Info Menarik Lainnya

VIDEO

Video|0

BIDIKKASUSNEWS.COM

Thanks To : PT MEDIA BIDIK KASUS GROUP | |

Like Fans Page Kami