Samosir, bidikkasusnews.com - Dugaan adanya penyalahgunaan penggunaan dana BOS di SMA Sw. Advent Simbolon semakin menguat, hal ini karena sampai lebih 3 minggu sejak kehadiran 3 orang pengurus LSM yang ada di Samosir kesekolah tersebut. Pada saat itu ketiganya diterima oleh Kepala Sekolah bersama beberapa orang ibu guru dan pegawai kantor sekolah.
Ketiganya memperkenalkan diri dan menyampaikan hal tujuan kehadiran mereka di sekolah tersebut.
Bastian Simbolon selaku Ketua DPC LSM LPPAS RI, Asbon Hutabalian selaku Ketua DPD LSM TOPAN RI dan Marada Sihombing selaku Ketua DPC LSM PAKAR.
Ketiganya menanyakan banyak hal, juga meminta klarifikasi tentang adanya informasi yang di terima dari masyrakat bahwa telah terjadi dugaan penyalahgunan penggunaan dana BOS, diantaranya ; pada pembiayaan kegiatan MKKS oleh kepala sekolah yang jumlahnya sangat tidak realistis. jumlah 500 - 700 ribu per kegiatan MKKS itu adalah jumlah yang sangat besar, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh beberapa orang kepala sekolh SMA/SMK di kabupaten Samosir yang sempat di konfirmasi.
Ada pula anggaran untuk pembiayaan penggunaan Sambungan Starlink.
Sebagai mana informasi yang dihimpun bahwa penggunaan Starlink itu diutamakan bagi daerah daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), sementara kabupaten Samosir sudah tidak di kategorikan sebagai daerah 3T, karena sudah terpasangnya sambungan internet terlebih di daerah disepanjang Jalan Nasional (Ringroad) Samosir. Sehingga pengguna Starlink oleh SMA SW. Simbolon jelas dianggap terlalu berlebihan dan pemborosan anggaran.
Selain anggaran penggunaan Starlink yang sudah begitu besar, dari informasi yang didapat ditemukan juga biaya untuk penggunaan berlangganan internet.
Sehingga terdapat dua anggaran untuk pembiayaan kebutuhan yang sama yakni Starlink dan langganan sambungan Internet.
Anggaran yang lebih besar yang diduga fiktif adalah biaya pembelian (belanja) buku paket.
Terdapat pembelin buku paket lebih dari 18 juta, namun diyakini bahwa buku tersebut tidak ada di belanjakan, hal ini diyakini karena berdasarkan informasi yang didapat sampai saat ini para siswa tidak memiliki buku pegangan.
Ada juga biaya pembelian kaus konvesi guru, baju faithpinder dan beberapa pembiayaan lainya yang diduga menyalahi peruntukan dana BOS.
Pada saat itu kepala sekolah karena merasa tidak sanggup menjawab dengan menunjukkan data yang sebenarnya, sehingga beliau memohon dengan meminta waktu untuk menyiapkan laporan sebagaimana yang diminta. Sehingga beliau berjanji akan secepatnya menghubungi ketiganya setalah data yang dipertanyakan sudah disiapkan, beliau juga pada pertemuan selanjutnya akan di dampingi oleh para guru, dan Komite sekolah, demikian dimohonkannya.
Pada kenyataannya kepala sekolah Neria Sinurat, S.Pd sampai lebih 3 minggu tidak ada menghubungi ke tiganya, malah dihubungi nomor kontaknya tidak mau mengangkat.
Dikirimi melalui WA, juga tidak mau memberi jawaban.
Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa benar telah terjadi penyalahgunaa dana BOS.
(Boni, S)



Komentar