Pejabat Candu Raun dan Bahondoh Pondoh Tak Ditemui Semasa SR

Arosuka, bidikkasusnews.com – Kadis ‘Candu Raun’ untuk sekedar menghadiri orang terima penghargaan, itu pun baru satu setengah bulan ia menjabat pada instansi yang ia tempati, niscaya melemahkan semangat pembinaan oleh bawahan setingkat Kabid yang bersusah-payah ke lapangan selama ini. “Kalau dapat pejabat yang melakukan pembinaan selama ini, itulah yang diberi reward dalam penerimaan penghargaan tersebut. Sehingga di masa akan datang sebagai penyemangat bagi mereka. Lagian Kadis dan kepala di Baren itu kan baru menjabat, belum tahu betul susahnya cara orang membina di lapangan”,celetuk staf di Kesra saat Kepala MTsN 6 Solok Talang Babungo sebagai juara II Nasional Lomba Sekolah Sehat.

Diberitakan sebelumnya, Kadis Candu Raun selalu di ACC berangkat oleh Sekda Aswirman untuk hanya sekedar mendampingi orang terima penghargaan. Kantor yang telah lama ditinggal, semacam pembiaran dengan mulusnya mendapatkan SPT. “Kadis itu sekali berangkat Jakarta, minimal Rp.12 sampai Rp14 juta antara 3-4 hari”,terangnya. Nyaris jarang di kantor dan lebih dominan perjalanan dinas, patut dicurigai ada persekongkolan antara atasan dan pejabat, dalam menggerus anggaran daerah. Apalagi yang berkeliling kemarin, setelah Jakarta, Jakarta lagi terus berhondoh-pondoh pejabat ke Medan, khabarnya Selasa, (19/11) Kabupaten Solok terima Swasti Saba Padapa, ada jatah lagi ‘Raun ke Jakarta.

Semasa Bupati Syamsu Rahim, pejabat berhondoh-pondoh ramai-ramai berterbangan naik kapal terbang ini, jarang sekali bersua. Sebab, bupatinya tahu, seorang berangkat dikalikan banyak orang, niscaya menghasilkan tersedotnya APBD daerah ratusan juta rupiah. Seperti Sumbar Ekspo di Medan, hampir seluruh Kadis ditambah Kabid dan staf Kabupaten Solok menggunakan SPPD luar daerah. Inikah yang namanya efisiensi dan efektifikas dalam konteks pemangkasan sejumlah anggaran yang dipreteli TAPD ?.
Wartawan Bidikkasus ini, relatif dekat di masa Bupati Syamsu Rahim, karena termasuk tim suksesnya saat suksesi dulu. SR inisial Bupati Syamsu Rahim (kala itu), terbilang alergi berombongan keluar daerah, karena akan menguras APBD. Apalagi kehadiran pejabat hanya sekedar menghadiri, niscaya terbilang anti soal itu. Testimoni wartawan media ini dalam sepak terjang SR, pernah menjelang Ramadhan pejabat yang bernama Dedi Permana dan Indra Merdi mengantarkan tumpukan kain sarung, ditolak mentah. Begitu juga kalau makan di di rumah makan, paling alergi dibayarkan oleh bawahan. “Saya bupati, duit saya lebih banyak dari kamu saya yang bayar”, tegasnya saat itu. Sehingga dampaknya, SR tidak ada beban terhadap pejabat Kabupaten Solok untuk menegur, menindak bahkan memberhentikannya sama sekali.

Sekarang ampun, pejabatnya pelit tak mau berbagi dengan yang lain termasuk tim sukses. Kemitraan dengan wartawan hanya semboyan, tidak secercah pun dana publikasi dan promosi tersedia, kikirnya hanya untuk dia sendiri. Bahkan soal uang minyak saja sampai Kadis dan Kabid ribut di sebuah SKPD. “Cerita ini sampai ke bupati, hingga menepuk meja segala, begitu pedihnya keuangan. Akan tetapi untuk perjalanan luar daerah, beramai-ramai ke Medan, Kalimantan, Makasar dan lainnya tersedia untuk itu”,tambahnya lagi.(charlie)

Artikel Terkait

Berita|Sumbar|
View Comments

Komentar

Info Menarik Lainnya

VIDEO

Video|0

BIDIKKASUSNEWS.COM

Thanks To : PT MEDIA BIDIK KASUS GROUP | |

Like Fans Page Kami