Tanjung Morawa, bidikkasusnews.com - Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, segala puji bagi Allah yang mempertemukan kita kembali dengan tamu agung, yakni bulan Dzulhijjah. Bulan yang di dalamnya terdapat hari-hari terbaik sepanjang tahun. Mari kita tingkatkan ketaqwaan, karena hanya bekal taqwalah yang akan menyelamatkan kita di hari saat harta dan anak-anak tak lagi berguna.
Hal itu disampaikan oleh Ustad Bima Surya Maha S.PdI saat kutbah Jumat di Masjid Al-Ikhlas Desa Tanjung Baru Kecamatan Tanjung Morawa Jumat, (22/5/2026).
"Hadirin yang dimuliakan Allah, Saat ini kita berada pada bulan Dzulhijjah, merupakan bulan yang penuh rahmat dan kemuliaan. Salah satu alasan yang menjadikan Dzulhijjah menjadi bulan yang mulia adalah banyaknya peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi.
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu momentum istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, memperkuat ketakwaan, serta menumbuhkan kepedulian sosial dan keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari.
Hari-hari mulia di bulan ini menjadi kesempatan terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amal saleh, dzikir, sedekah, serta berbagai bentuk ketaatan lainnya.
Ini adalah musim semi bagi ruhani kita. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian bising, di tengah fitnah media sosial yang seringkali melalaikan, Dzulhijjah hadir sebagai oase. la memanggil kita untuk berhenti sejenak,
menoleh ke dalam hati, dan bertanya: "Sudahkah aku menjadi kekasih Allah (Khalilullah)?"
Jamaah Jumat yang Berbahagia, Jika kita bicara Dzulhijjah, maka ingatan kita tak kan lepas dari sosok Nabi Ibrahim AS. Beliau digelari Khalilullah (Kekasih Allah). Mengapa? Bukan karena beliau tidak punya masalah, justru karena hidupnya penuh dengan ujian yang menggetarkan jiwa. Untuk menjadi kekasih Allah, Ibrahim AS mengajarkan kita tiga pilar utama yang sangat relevan bagi kita manusia modern saat ini:
1. Keteguhan Iman di Tengah Badai Ujian. Nabi Ibrahim AS diperintah menyembelih putra tercintanya, Ismail. Secara logika manusia, ini berat. Namun, iman Ibrahim melampaui logika. Di zaman sekarang, ujian kita mungkin bukan menyembelih anak, tapi menyembelih "ego", menyembelih "keserakahan", dan menyembelih "cinta dunia" yang berlebihan. Ibrahim mengajarkan bahwa ketaatan total adalah kunci pembuka pintu rahmat.
2. Ikhtiar Maksimal, Tawakkal Total. Ingatlah perjuangan Ibunda Hajar saat mencari air di antara Shafa dan Marwah. Beliau berlari tujuh kali. Beliau tidak diam berpangku tangan menunggu mukjizat. Beliau berikhtiar (berusaha). Namun, air Zam-zam tidak muncul dari kaki Hajar yang berlari, melainkan dari tumit Ismail yang pasrah.
Pesan bagi kita, bekerjalah sekuat tenaga untuk nafkah dan masa depan, namun jangan sandarkan nasibmu pada usahamu, sandarkanlah hanya kepada Allah. Itulah hakikat tawakkal.
3. Kesabaran yang Indah (Sabrun Jamil). Nabi Ibrahim menghadapi api Namrud dengan sabar. Beliau hanya berucap (Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik penolong).
Di zaman yang serba instan ini, kita sering kehilangan kesabaran. Kita ingin doa cepat dikabulkan, kita ingin sukses tanpa proses. Ibrahim mengajarkan bahwa sabar adalah api yang membakar keraguan dan memurnikan keyakinan," pungkas Ustad Bima.
(Tumenggung)



Komentar