Implementasi Antropologi Sosial Lewat Penelitian Etnobotani hingga Raih HKI Kemenkumham

Medan, bidikkasusnews.com - Ruang lingkup Antropologi Sosial tidak hanya tentang masyarakat dan interaksinya yang meliputi struktur serta budaya, tetapi juga membahas bagaimana interaksi manusia dengan tumbuhan sebagai sesama makhluk hidup, yang mana ilmu ini dikenal dengan Etnobotani. Ilmu ini membuktikan bahwa apapun yang dipelajari tidak pernah terlepas dari nilai-nilai kehidupan. Hal ini lah yang kemudian mendorong Salman Al Farici untuk melakukan sebuah penelitian hingga berhasil memperoleh Hak Kekayaan Intelektual dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Langkah ini berawal dari bergabungnya Salman Al Farici yang kerap disapa Salman ke dalam kelas mata kuliah Etnobotani pada saat masih menapaki bangku perkuliahan di Universitas Sumatera Utara (USU). Ketertarikannya ini didukung oleh rasa penasaran dan tertantang untuk mengikuti kelas yang menurut sebagian orang memiliki cukup tinggi tingkat kesulitan untuk mendapatkan nilai A.

Penelitian Etnobotani yang dilakukan oleh Salman merupakan sebuah tugas mata kuliah berbentuk publikasi karya tulis ilmiah dan video. Dalam realisasinya, Salman bergabung dengan beberapa teman kelasnya dalam satu tim untuk turun langsung ke masyarakat dengan meneliti topik terkait keanekaragaman hayati obat-obatan tradisional.

Penelitian yang dilaksanakan selama sekitar empat sampai lima bulan ini dilakukan di Pasar Pancur Batu, Kota Medan, Sumatera Utara dengan mengeksplorasi keanekaragaman obat-obatan tradisional. Pemilihan pasar tersebut didasari oleh penelitian Salman bersama teman-temannya mengenai kepercayaan masyarakat di Kota Medan terhadap alternatif obat-obatan suku Karo melalui analisis Minyak Karo dan tanaman akar.

Tidak hanya berkecimpung di dunia Etnobotani, Salman Al Farici juga menerapkan ilmu Antropologi Sosial dalam mencari informan. Ia berpegang teguh pada nilai humanis yang menyatakan bahwa dalam penelitian, peneliti tidak bisa menentukan narasumber atau informan sebelum turun ke lapangan.

“Kalau kami menyebutnya ‘memanusiakan manusia’. Jadi, apapun nanti yang ditemui di sana, itu lah yang menjadi tantangan,” ujar Salman.

Dalam memperoleh HKI, Salman dan tim telah melalui perjalanan yang panjang. Berbagai tantangan telah dihadapi, seperti adanya perbedaan bahasa pada saat menemui narasumber di pasar. Hal ini disebabkan karena narasumber yang merupakan penjual dari salah satu gerai obat-obatan merupakan mak tua yang cenderung akan lebih merasa dekat ketika berbicara dengan bahasa daerahnya, bahasa Karo. 

Namun, hal tersebut tidak mematahkan semangatnya. Sebagai mahasiswa Antropologi Sosial yang menerapkan nilai humanis dengan memahami manusia, Salman dan tim memutuskan untuk membeli produk pada gerai tersebut guna menciptakan kedekatan personal dengan narasumber dalam mengumpulkan data penelitian. Tidak hanya pada saat pelaksanaan di lapangan, dalam proses penyusunannya, Salman bersama dengan tim juga harus menghadapi revisi berlapis pada karya-karya sebelum dipublikasikan.

Walaupun bermula dari proyek mata kuliah, justru karya-karya tersebut memberikan dampak yang kuat dalam lingkungan akademis. Melalui penelitian ini, Salman dan tim berharap setiap orang dapat mengetahui pengobatan tradisional yang selama ini masih dianggap cukup tabu.

(Red)

Artikel Terkait

Medan|
View Comments

Komentar

Info Menarik Lainnya






VIDEO

Video|0

BIDIKKASUSNEWS.COM

Thanks To : PT MEDIA BIDIK KASUS GROUP | |

Like Fans Page Kami