Medan, bidikkasusnews.com - Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara (USU), Muaz Alfattah Fadhani, terpilih sebagai delegasi Kota Medan dalam program Youth City Changers dan mendorong keterlibatan anak muda dalam pembenahan transportasi publik.
Youth City Changers merupakan program kepemimpinan pemuda yang berkaitan dengan pembangunan perkotaan. Program ini membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat dalam forum yang membahas arah perubahan kota.
Muaz sebelumnya meraih Juara 1 Olimpiade Jurnalis Muda 2026 lewat karya jurnalistik mendalam berjudul "Dari Halte ke Harapan: Jalan Panjang Mebidang Menuju Kota Rendah Emisi". Pada 2026, ia juga mengikuti Bootcamp Future Leaders in Sustainable Transport yang diselenggarakan WRI Indonesia, lalu mendirikan Transgo Medan, komunitas pemuda yang bergerak di bidang transportasi berkelanjutan.
Menurut Muaz, anak muda perlu dilibatkan karena persoalan transportasi publik di Medan masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Ia menilai sistem transportasi yang belum terintegrasi menjadi salah satu penyebab masyarakat belum menjadikan transportasi umum sebagai pilihan utama.
"Kalau ditanya apakah sudah banyak masyarakat yang menggunakan transportasi umum, sebenarnya sudah, tapi belum banyak karena sistem transportasinya belum terintegrasi," ujar Muaz.
Ia juga menyoroti kemudahan membeli kendaraan pribadi. Menurutnya, kondisi itu membuat transportasi umum belum menjadi kebutuhan utama masyarakat.
"Kredit itu super mudah. Jadi masyarakat bisa membeli kendaraan pribadi itu lebih mudah," ujarnya.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebelumnya menyampaikan bahwa BRT Mebidang masih dalam tahap uji coba, dengan operasional penuh direncanakan mulai 8 Desember 2026. Bagi Muaz, tahap ini menjadi momentum untuk mengajak publik, termasuk anak muda, ikut memantau dan menyampaikan masukan.
Dari bootcamp WRI, Muaz dan Transgo Medan menjalankan proyek pilot dekarbonisasi transportasi. Kegiatannya antara lain edukasi lewat media sosial, turun langsung ke lapangan untuk berdialog dengan warga, dan membagikan peta transportasi.
"Kalau dari proyek pilot, sebenarnya kami fokusnya ke edukasi dan advokasi," kata Muaz.
Ia mengakui menggerakkan sebuah gerakan tidak bisa dilakukan sendirian. Menurutnya, dibutuhkan hubungan yang baik dengan pemangku kepentingan, keterlibatan pemerintah, serta dukungan pendanaan agar program dapat berjalan.
Ke depan, Muaz berharap Transgo Medan dapat menjadi ruang belajar bagi masyarakat. Transgo juga berencana menggelar bootcamp berskala kecil tentang dekarbonisasi transportasi bagi warga Medan.
"Harapan kami, kami bisa membangun sebuah ekosistem di mana Transgo ini menjadi salah satu tempat belajar untuk orang-orang," tutup Muaz.
(Red)


Komentar