Belawan, Bidikkasusnews.com - Kinerja pengelolaan depo kontainer oleh PT. Prima Indonesia Logistik (PT. PIL) di kawasan pelabuhan Belawan menuai kritik keras. Fasilitas yang seharusnya menjadi penopang utama arus logistik justru berada dalam kondisi memprihatinkan: tergenang air, rusak, dan minim perawatan.
Pantauan di lokasi, Sabtu (29/8/2026), memperlihatkan area penumpukan kontainer berubah menyerupai kolam. Genangan air menguasai sebagian besar lapangan depo, memperlambat aktivitas operasional dan meningkatkan risiko kerusakan barang serta peralatan.
Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di tengah kewajiban pembayaran yang tetap dibebankan penuh kepada para penyewa. Para pengguna jasa yang telah terikat kontrak dengan melalui PIL menilai tidak ada keseimbangan antara biaya yang dikeluarkan dengan kualitas layanan yang diterima.
Sejumlah sumber di lapangan menyebutkan, persoalan utama terletak pada buruknya sistem drainase yang tidak berfungsi, ditambah kondisi jalan yang berlubang serta kontur tanah depo yang tidak rata. Dugaan pembiaran pun mencuat, mengingat kerusakan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat.
“Ini bukan lagi soal teknis biasa. Kalau dibiarkan, ini mencerminkan lemahnya manajemen pengelolaan aset negara,” ujar seorang pelaku usaha logistik yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Padahal, depo kontainer di Belawan merupakan simpul penting dalam rantai distribusi barang di Sumatera Utara. Sejumlah perusahaan seperti PT PJN, PT Intercon, PT BSA, PT SPIL, PT SLL, dan PT CTP tercatat sebagai pengguna aktif fasilitas tersebut. Aktivitas mereka berkontribusi langsung terhadap perputaran ekonomi dan penerimaan sektor kepelabuhanan.
Kondisi ini dinilai kontras dengan posisi strategis Pelabuhan Belawan sebagai salah satu pelabuhan utama nasional. Buruknya fasilitas depo tidak hanya berdampak pada efisiensi logistik, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan pelaku usaha terhadap tata kelola pelabuhan.
Pengamat menilai, sebagai pengelola yang diberi mandat atas aset milik negara, PIL seharusnya mengedepankan standar layanan dan pemeliharaan yang terukur serta berkelanjutan. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan publik.
Upaya konfirmasi kepada pihak manajemen PIL melalui pejabat yang disebut bernama Mitsu belum membuahkan hasil. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi terkait penyebab genangan maupun rencana penanganan.
Minimnya respons dari pengelola semakin memperkuat desakan agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pengelolaan depo kontainer di PT. PIL di Pelabuhan Belawan. Perbaikan infrastruktur dan sistem pengawasan dinilai mendesak untuk menghindari kerugian yang lebih luas.
(SURYONO)


Komentar