Pasaman, bidikkasusnews.com - Bupati Pasaman Welly Suhery menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan adat serta budaya Minangkabau di tengah perkembangan zaman dan arus globalisasi yang semakin pesat.
Penegasan tersebut disampaikan Bupati Welly Suhery saat membuka Lomba Peragaan Baju Kurung Basiba dan Pemasangan Tikuluak antarorganisasi wanita Kabupaten Pasaman Tahun 2026, yang digelar di Halaman GOR Utama GOR Tuanku Rao Lubuk Sikaping, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Pasaman tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasaman ke-81 Tahun 2026. Lomba tersebut diikuti organisasi wanita se-Kabupaten Pasaman sebagai salah satu upaya memperkuat kecintaan terhadap adat dan budaya Minangkabau.
Dalam kesempatan itu, Bupati Welly Suhery secara resmi membuka kegiatan yang mengangkat busana adat perempuan Minangkabau tersebut. Ia memberikan apresiasi kepada GOW Kabupaten Pasaman yang telah menginisiasi kegiatan sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian adat dan budaya daerah.
Menurut Welly, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan untuk menentukan peserta terbaik. Lebih dari itu, lomba menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai nilai, filosofi dan makna yang terkandung dalam Baju Kurung Basiba serta Tikuluak.
“Adat Minangkabau mengandung falsafah yang sangat tinggi. Karena itu, kita memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga dan meneruskannya kepada generasi berikutnya,” ujar Welly Suhery.
Ia mengatakan, Baju Kurung Basiba dan Tikuluak tidak hanya menjadi bagian dari busana tradisional perempuan Minangkabau, tetapi juga mencerminkan identitas, kesopanan, keanggunan serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Minangkabau.
Karena itu, melalui kegiatan tersebut Bupati berharap peserta maupun masyarakat yang hadir dapat memahami filosofi yang terkandung dalam busana adat tersebut.
Menurutnya, pelestarian budaya Minangkabau juga tidak dapat dipisahkan dari falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS-SBK) yang menjadi salah satu landasan kehidupan masyarakat Minangkabau.
“Melalui lomba ini diharapkan semua peserta dan penonton bisa memahami nilai dari filosofi yang terkandung pada Baju Kurung Basiba dan Tikuluak, yaitu adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah,” katanya.
Welly menyebutkan, perkembangan globalisasi, kemajuan teknologi serta masuknya berbagai budaya dari luar menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan budaya daerah. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga adat, organisasi wanita dan seluruh elemen masyarakat.
Ia berharap pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial dan perlombaan. Penggunaan Baju Kurung Basiba, katanya, perlu terus dibiasakan dalam berbagai kegiatan resmi, hari besar keagamaan maupun kegiatan kebudayaan.
“Setelah perlombaan ini selesai, saya berharap pemakaian Baju Kurung Basiba tidak ikut usai. Mari dibiasakan memakainya dalam berbagai kegiatan resmi, hari besar keagamaan maupun acara kebudayaan lainnya,” ajaknya.
Sementara itu, Ketua Umum GOW Kabupaten Pasaman, Asra Parulian, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama untuk menjaga keberadaan adat dan budaya Minangkabau.
Menurutnya, budaya Minangkabau tidak cukup hanya dikenang sebagai warisan para pendahulu, tetapi harus tetap hidup, digunakan, dipahami dan dibanggakan oleh generasi muda.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap budaya Minangkabau tidak hanya kita kenang sebagai warisan dari orang tua dan para pendahulu, tetapi juga tetap hidup, digunakan, dipahami dan dibanggakan oleh generasi muda,” ujar Asra.
Ia mengatakan, perempuan Minangkabau memiliki peran penting dalam menjaga, merawat dan mewariskan nilai-nilai adat dan budaya kepada generasi berikutnya. Karena itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan rasa bangga terhadap identitas budaya sekaligus mempererat silaturahmi antarorganisasi wanita.
Ketua Panitia Pelaksana, Emilia Yudesri, dalam laporannya menyampaikan bahwa lomba tersebut merupakan bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Pasaman ke-81 Tahun 2026. Kegiatan sekaligus menjadi wadah memperkuat kekompakan dan kebersamaan organisasi wanita se-Kabupaten Pasaman.
Peserta lomba merupakan perwakilan organisasi wanita yang ada di Kabupaten Pasaman. Mereka menampilkan peragaan Baju Kurung Basiba sekaligus memperagakan pemasangan Tikuluak di hadapan dewan juri dan para undangan.
Dewan juri melakukan penilaian berdasarkan sejumlah kriteria yang telah ditetapkan panitia. Peserta terbaik nantinya akan mendapatkan penghargaan Juara I, Juara II, Juara III serta juara harapan.
Bupati Welly Suhery kembali menegaskan bahwa inti kegiatan tersebut bukan semata-mata mengejar kemenangan. Menurutnya, lomba harus menjadi sarana edukasi, promosi sekaligus publikasi terhadap kekayaan budaya yang dimiliki Kabupaten Pasaman.
“Esensi dari lomba ini adalah upaya melestarikan dan merawat budaya sekaligus sebagai edukasi, promosi dan publikasi cagar budaya kita,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyampaikan pantun yang mengandung pesan tentang pentingnya peran perempuan Minangkabau sebagai panutan dalam keluarga.
“Bundo kanduang mamakai baju basiba, baju disulam jo banang suto. Jadilah panutan ditangah keluarga, tampek urang batanyo jo babarito,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Pasaman, Ketua TP-PKK Kabupaten Pasaman selaku penasihat GOW, Ketua Umum GOW beserta pengurus, para asisten dan kepala OPD, ketua organisasi wanita se-Kabupaten Pasaman, Camat Lubuk Sikaping, dewan juri serta para peserta lomba.
Melalui kegiatan tersebut, GOW Kabupaten Pasaman berharap pelestarian busana adat Minangkabau tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Momentum Hari Jadi Kabupaten Pasaman ke-81 diharapkan semakin memperkuat komitmen bersama menjaga adat, budaya dan kearifan lokal sebagai jati diri masyarakat Pasaman.
(DA/SUR)


Komentar