Saat Dunia yang Kita Cintai Harus Ditinggalkan

Tanjung Morawa, bidikkasusnews.com - Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah, Puji syukur alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah SWT berikan kepada kita semua, mulai dari nikmat iman, sehat, nikmat akal untuk merencanakan ikhtiar, hingga nikmat hati untuk menerima segala takdir. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Rasulullah Muhammad SAW, allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbih.

Demikian kata pembuka ustad Bima Surya Maha S.PdI dalam khutbah Jumat di Masjid Baitul Huda Desa Lengau Seprang Kecamatan Tanjung Morawa Jumat, (9/10/2026).

"Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, ada satu saat yang pasti akan datang kepada setiap manusia, yaitu kematian.

Semua yang selama ini kita kejar harus kita tinggalkan.Rumah yang kita bangun, kendaraan yang kita banggakan, uang yang kita kumpulkan. Pekerjaan yang kita perjuangkan, orang-orang yang kita cintai, rencana yang belum selesai, semuanya harus kita lepaskan.

Saat itulah manusia berhadapan dengan sakaratul maut, fase menjelang kematian yang berat bagi manusia.

Allah SWT berfirman : 

 “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari".(QS. Qaf: 19)," beber Khatib Jumat.

"Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, kita mengira dunia akan selamanya menjadi milik kita, kita bekerja keras untuk memiliki rumah. Kemudian rumah itu kita rawat, kita membeli kendaraan, kita menjaga dan membanggakan nya. Kita menabung, kita mengejar jabatan, tidak salah memiliki semua itu.

Islam tidak melarang manusia mencari rezeki dan menikmati kehidupan dunia.

Tetapi masalahnya muncul ketika dunia menjadi sesuatu yang membuat kita lupa bahwa kita akan meninggalkannya.

Karena sebanyak apa pun yang kita miliki, tidak ada satu pun yang bisa kita bawa ke dalam kubur selain amal yang Allah izinkan menjadi bekal, disaat Sakaratul maut itu datang," tambah ustad Bima.

"Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya terlalu sibuk mengejar dunia. Pagi bekerja, siang mengejar target, malam memikirkan uang.Hari demi hari berlalu. Kemudian tiba-tiba tubuhnya pun melemah.

Saat itu, target pekerjaan tidak lagi penting. jumlah uang di rekening tidak lagi menjadi perhatian utama. Rumah yang besar tidak lagi memberikan ketenangan seperti yang dibayangkan, yang tersisa hanyalah amal dan perjalanan menuju kehidupan berikutnya.

Allah SWT berfirman : Kullu nafsin dzā`iqatul-maụt, ṡumma ilainā turja'ụn.

“Dan setiap yang bernyawa akan merasakan mati".(QS. Ali ‘Imran: 185).

Kematian bukan sesuatu yang hanya terjadi kepada orang lain, suatu hari, kita akan mengalaminya sendiri," papar Khatib Jumat.

"Rasulullah SAW juga mengalami Sakaratul maut, ini bukan berarti orang yang dicintai Allah terbebas dari beratnya kematian.

Dalam hadits sahih, ketika Rasulullah SAW mengalami sakit menjelang wafat, beliau memiliki sebuah wadah berisi air dan mengusapkan tangannya ke wajahnya seraya berdoa :

“Ya Allah, tolonglah aku menghadapi sakaratul maut". (HR. Tirmidzi; terdapat pula riwayat tentang beratnya sakaratul maut dalam Bukhari dan Muslim). Ini mengingatkan kita bahwa kematian adalah perkara yang serius.

Bahkan manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi pun mengalami beratnya saat-saat terakhir kehidupan.

Yang paling menyedihkan bukan meninggalkan dunia, tetapi, meninggalkan dunia tanpa bekal.

Bayangkan seseorang memiliki banyak harta, tetapi tidak memiliki amal yang cukup.Memiliki banyak teman, tetapi tidak memiliki hubungan yang baik dengan Allah.

Memiliki banyak kesempatan, tetapi selalu berkata, "nanti", nanti bertaubat, nanti memperbaiki shalat, nanti bersedekah, nanti meminta maaf, nanti membaca Al-Qur'an.

Sampai akhirnya, kata “nanti” pun tidak pernah datang.

Allah SWT menggambarkan penyesalan manusia ketika kematian telah datang :

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan kematianku sedikit waktu, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh".

(QS. Al-Munafiqun: 10).

Tetapi waktu itu sudah habis, maka apa yang harus kita persiapkan, bukan berarti kita harus meninggalkan dunia.Tetapi kita harus menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

Cari rezeki, tetapi jangan tinggalkan shalat.Bangun rumah, tetapi jangan lupa membangun amal.Rawat keluarga, tetapi ajak mereka mengenal Allah.

Allah SWT berfirman : “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti".(QS. Al-An'am: 32).

Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mempersiapkan kehidupan yang hanya beberapa puluh tahun, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan yang kekal.

Setiap kali melihat pemakaman jangan hanya melihat tanah.Lihatlah sebuah pengingat tentang akhir perjalanan kita.

Setiap kali masih diberikan kesempatan untuk bangun pagi anggap itu sebagai hadiah.

Karena ada orang yang tidur tadi malam dengan banyak rencana tetapi tidak pernah bangun lagi, sedangkan kita masih diberi kesempatan. Masih bisa bertaubat, masih bisa bersujud, masih bisa bersedekah.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, mari kita sama berdoa : Ya Rabb...Ya Allah, jangan biarkan kecintaan kami kepada dunia membuat kami lupa kepada akhirat.

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, lembutkan hati kami untuk selalu mengingat kematian, bukan agar kami takut menjalani kehidupan, tetapi agar kami menggunakan kehidupan ini untuk mencari ridha-Mu.

Ya Allah...ampuni dosa-dosa kami, terima taubat kami, berikan Keberkahan  umur kami dengan amal saleh, dan ketika ajal kami tiba, mudahkanlah sakaratul maut kami, Aamiin...Ya Rabbal Alamin...," pungkas Ustad Bima Surya Maha.

(Tumenggung)

Artikel Terkait

Berita|Sumut|
View Comments

Komentar

Info Menarik Lainnya





VIDEO

Video|0

BIDIKKASUSNEWS.COM

Thanks To : PT MEDIA BIDIK KASUS GROUP | |

Like Fans Page Kami